
Peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah di Prambanan, Sleman.
Sleman - Dua puluh tahun setelah gempa besar meluluhlantakkan wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2006 silam, semangat membangun budaya tangguh bencana kembali digaungkan di kawasan bersejarah Prambanan.
Senkom Mitra Polri menghadiri undangan resmi Peringatan 20 Tahun Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia di Lapangan Garuda Kompleks Candi Prambanan, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan tersebut dikemas dalam Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan Kebencanaan sebagai simbol penguatan sinergi lintas sektor menghadapi ancaman bencana nasional yang terus meningkat akibat faktor geologi maupun perubahan iklim.
Hadir mewakili Ketua Umum Senkom Mitra Polri Dr. KP. H. Katno Hadi, SE, MM, MH, yakni Ketua Senkom Mitra Polri Jawa Tengah H. Guntur Ivanto, ST, MT bersama Kepala Departemen PB-SAR PP Senkom Mitra Polri Edi Ermawan.
Momentum ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan refleksi kolektif bangsa atas tragedi gempa 2006 yang tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan di Indonesia.
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, saat membacakan amanat Menteri Koordinator PMK menegaskan bahwa Indonesia berada di kawasan cincin api dunia atau ring of fire yang memiliki tingkat kerawanan bencana sangat tinggi.
Ia menyebut gempa Yogyakarta tahun 2006 dengan durasi getaran sekitar 57 detik menyebabkan lebih dari 5.700 korban meninggal dunia, lebih dari 200 ribu rumah rusak, dan kerugian ekonomi mencapai lebih dari Rp2 triliun.
“Peringatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjadi ruang refleksi untuk memperkuat memori kolektif bangsa dalam memperkuat pengurangan risiko bencana,” ujar Lilik Kurniawan.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak bisa dilakukan secara parsial karena ancaman bencana di Indonesia semakin kompleks, termasuk potensi dampak fenomena El Nino yang dapat memicu bencana ikutan seperti kekeringan dan kebakaran hutan.
“Tidak ada pihak yang bisa menghadapi bencana sendirian. Kolaborasi menjadi kekuatan utama. Candi Prambanan menjadi penanda kesiapan kita menghadapi bencana,” tegasnya.
Ketua Senkom Mitra Polri Jawa Tengah, Guntur Ivanto, mengatakan peringatan dua dekade gempa Yogyakarta menjadi pengingat penting agar masyarakat memiliki literasi kebencanaan yang lebih kuat.
Menurutnya, pemahaman terhadap risiko bencana harus menjadi pengetahuan dasar masyarakat, terutama di wilayah rawan gempa seperti Pulau Jawa.
“Peringatan 20 tahun ini akan menjadi refleksi bagi masyarakat bahwa risiko bencana harus menjadi pengetahuan wajib. Dengan kesiapsiagaan yang baik, dampak gempa dapat diminimalkan,” ujarnya.
Ia menegaskan Senkom Mitra Polri akan terus memperkuat kapasitas relawan dan edukasi kebencanaan di tengah masyarakat sebagai bagian dari penguatan ketahanan nasional berbasis komunitas.
Sementara itu, Kepala Departemen PB-SAR PP Senkom Mitra Polri, Edi Ermawan, menilai kegiatan tersebut menjadi forum strategis dalam memperkuat koordinasi lintas sektor antara pemerintah, relawan, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil.
“Kegiatan ini sangat positif dalam membangun budaya sadar bencana dan memperkuat sinergi antarrelawan serta pemerintah. Senkom Mitra Polri siap mendukung mitigasi, kesiapsiagaan hingga respons cepat kebencanaan secara kolaboratif dan berkelanjutan,” katanya.
Selain Senkom Mitra Polri, sejumlah organisasi kemanusiaan dan relawan nasional turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Humanitarian Forum Indonesia, Muhammadiyah Disaster Management Center, Palang Merah Indonesia, Gerakan Pramuka, Dompet Dhuafa, hingga ORARI.
Kehadiran berbagai elemen tersebut memperlihatkan bahwa penanggulangan bencana kini tidak lagi bertumpu pada pemerintah semata, melainkan membutuhkan model kolaborasi pentahelix yang melibatkan media, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan relawan masyarakat.
Bagi wilayah-wilayah rawan bencana seperti Jawa Timur, termasuk Sidoarjo dan kawasan pesisir selatan Jawa, penguatan mitigasi berbasis komunitas dinilai semakin mendesak. Edukasi kebencanaan sejak dini dan kesiapan relawan lokal menjadi faktor penting dalam menekan risiko korban saat bencana terjadi.
Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini sekaligus menjadi alarm bahwa ancaman bencana di Indonesia masih nyata dan membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan dari seluruh elemen bangsa.(Tj/Ac)



Post a Comment